Kegiatan Wilayah Kalimantan Timur

AMSI Kaltim Gelar Diskusi Perkembangan Teknologi AI dan Masa Depan Integritas Media

Admin Kalimantan Timur
Kamis 17 September 2026

BALIKPAPAN — Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah banyak hal dalam kehidupan manusia, termasuk cara kerja industri media.

Teknologi yang mampu mengolah informasi dalam waktu singkat itu membuka peluang baru bagi jurnalistik, sekaligus menghadirkan pertanyaan serius tentang akurasi, etika, dan kepercayaan publik.

Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Kalimantan Timur yang akan menggelar diskusi bertema “Perkembangan Teknologi AI dan Dampaknya terhadap Trust dan Integritas Media”, Jumat, 18 September 2026.

Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Grand Tiga Mustika, Room Mutiara Lantai 2, Balikpapan, mulai pukul 09.00 WITA hingga selesai, bekerja sama dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat.

Ketua AMSI Kaltim, Ahmad Yani, mengatakan forum tersebut dirancang sebagai ruang untuk melihat perkembangan AI dari perspektif teknologi sekaligus kepentingannya bagi masa depan industri media.

Menurut Ahmad Yani, perkembangan AI tidak lagi dapat dipandang sebagai sesuatu yang berada di luar dunia jurnalistik. Teknologi tersebut sudah masuk ke dalam berbagai tahapan kerja media, mulai dari pengolahan data hingga produksi dan distribusi konten. 

"AI memberikan banyak kemudahan. Tetapi di balik kemudahan itu ada tanggung jawab yang tidak bisa diserahkan kepada mesin,” kata Ahmad Yani saat ditemui menjelang kegiatan tersebut.

Ia menilai kemampuan teknologi menghasilkan informasi secara cepat perlu diimbangi dengan kapasitas manusia dalam memeriksa dan memastikan kebenarannya.

Dalam jurnalistik, kecepatan merupakan bagian dari tuntutan kerja, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah media.

"Media bukan hanya dituntut cepat. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana informasi yang disampaikan tetap akurat dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan tersebut menjadi semakin kompleks ketika AI mampu menghasilkan teks, gambar, suara hingga video yang secara visual maupun naratif sulit dibedakan dari konten yang dibuat manusia.

Kondisi itu, kata Ahmad Yani, menuntut media memperkuat mekanisme verifikasi. Redaksi tidak cukup hanya mengetahui bahwa sebuah konten dibuat dengan bantuan teknologi, tetapi juga harus memahami bagaimana teknologi tersebut digunakan dan apa konsekuensinya terhadap informasi yang diterima masyarakat.

"Di sinilah integritas redaksi menjadi penting. Teknologi hanya alat. Yang menentukan bagaimana alat itu digunakan tetap manusia,” katanya.

Dalam diskusi tersebut, AMSI Kaltim menghadirkan sejumlah narasumber dengan pengalaman di bidang diplomasi publik, teknologi, komunikasi, dan tata kelola AI. Dari Kedutaan Besar Amerika Serikat, hadir Katherine Jernigan, Public Diplomacy Officer, serta Maxwell Scott, pakar sekaligus penasihat AI Governance dari Amerika Serikat. Ahmad Yani juga akan terlibat dalam forum tersebut.

Ahmad Yani berharap pertemuan itu tidak berhenti pada pembahasan mengenai kecanggihan teknologi.

Menurutnya, yang lebih penting adalah bagaimana media memahami batas, risiko, dan tanggung jawab ketika AI digunakan dalam kerja jurnalistik.

Ia menyebut sejumlah aspek perlu menjadi perhatian, antara lain transparansi penggunaan AI, proses verifikasi, perlindungan terhadap akurasi informasi, tanggung jawab redaksi, serta hubungan media dengan masyarakat.

"Kepercayaan publik tidak dibangun oleh kecanggihan teknologi. Kepercayaan dibangun melalui kerja jurnalistik yang bertanggung jawab,” tutur Ahmad Yani.

Bagi AMSI Kaltim, perkembangan AI justru perlu dihadapi dengan keterbukaan dan kesiapan, bukan dengan sikap menolak perubahan. Media perlu memahami teknologi agar dapat mengambil manfaatnya tanpa kehilangan prinsip dasar jurnalistik. Pada titik itu, transformasi digital bukan sekadar persoalan mengganti cara kerja lama dengan perangkat baru.

Ada nilai yang harus tetap dijaga ketika teknologi berkembang semakin jauh: kebenaran informasi, independensi, transparansi, dan kepentingan publik. Sebab, ketika mesin dapat bekerja semakin cepat, manusia justru dituntut semakin cermat. Ketika teknologi mampu menghasilkan semakin banyak informasi, media dituntut semakin kuat dalam memilah mana yang layak dipercaya.

"Teknologi boleh berkembang dan bergerak cepat. Tetapi prinsip jurnalistik tidak boleh kehilangan pijakannya,” tandasnya. (SS/*)