Press Release

Zero Click dan Crawler AI, Industri Media Hadapi Tekanan Ganda

Tim Sekretariat
Sabtu 21 Februari 2026

Jakarta, 20 Februari 2026 - Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wahyu Dhyatmika, menegaskan bahwa industri media Indonesia tengah menghadapi double squeeze akibat dua fenomena besar dalam setahun terakhir.

Fenomena pertama adalah maraknya peluncuran generative AI tools, termasuk ChatGPT, serta hadirnya fitur AI Overview di mesin pencari yang memicu fenomena zero click. Dalam skema ini, pengguna tidak lagi mengklik tautan berita karena ringkasan sudah disajikan langsung di halaman hasil pencarian. Akibatnya, banyak media mengalami penurunan signifikan pada trafik organik, bahkan hingga lebih dari 50 persen.

Fenomena kedua adalah meningkatnya aktivitas crawler AI yang mengakses situs media untuk merekam dan melatih model berbasis konten jurnalistik. “Ada peningkatan jumlah bots masuk ke news media website untuk merekam konten yang kita produksi, tanpa ada licensing agreement,” ujar Wahyu dalam rangkaian diskusi bertema Navigating AI in Newsrooms: Research Insights and Media Business Sustainability di Hotel Morrissey, Jakarta. Dengan kata lain, Wahyu melanjutkan, di satu sisi trafik menurun dan di sisi lain konten tetap dimanfaatkan tanpa imbal balik ekonomi yang adil.

Ia menyebut kedua fenomena tersebut sebagai double squeeze yang menyebabkan industri media berada di persimpangan jalan. Yang kini penting di sisi hulu adalah perlindungan data oleh publisher. Sementara itu di sisi hilir, tim redaksi dan bisnis dituntut melakukan optimalisasi teknologi demi keberlangsungan. 

AMSI sebenarnya sudah melakukan upaya dengan membuat infrastruktur baru yang diadopsi dari OpenMind, sebuah open source infrastruktur dari Amerika Serikat. Jadi, crawler AI masuk ke infrastruktur tersebut yang didesain untuk memantau aksesnya, mencatat aktivitasnya, dan membuka ruang negosiasi kompensasi. Uji coba awal telah dilakukan pada tiga media anggota AMSI dan akan segera disosialisasikan lebih luas.

Meski demikian berdasarkan review kecil terhadap sebagian anggotanya, AMSI mendapati bahwa pemahaman mengenai robot.txt masih begitu minim. Sebab dari 500 anggota asosiasi ini, hanya kurang dari 5 persen yang sudah memasang robot.txt dan melakukan whitelist maupun blacklist untuk crawler yang masuk ke website. 

Sementara itu di tingkat ekosistem, Wahyu menekankan pentingnya regulasi yang lebih kuat untuk melindungi konten jurnalistik, baik melalui revisi Undang-Undang Hak Cipta, penguatan publisher rights, maupun regulasi turunan lainnya. Hal ini dinilai krusial untuk memperkuat posisi tawar media dalam bernegosiasi dengan platform digital global. “Kita perlu dukungan agar konten jurnalistik terlindungi,” ujarnya.

Kemudian di sisi internal perusahaan, publisher didorong untuk lebih memahami aset data yang dimiliki, diferensiasi produk jurnalistik, serta kebutuhan audiens. Dengan pendekatan berbasis data dan pemanfaatan AI secara strategis untuk meningkatkan produktivitas redaksi dan inovasi bisnis, diharapkan lahir model bisnis baru yang lebih berkelanjutan.

Forum ini menegaskan bahwa tantangan AI tidak dapat dihadapi secara individual. Diperlukan langkah kolektif, kolaborasi lintas sektor, serta solidaritas industri agar media Indonesia tetap relevan, independen, dan berdaya saing di era transformasi digital. “Masih ada harapan, selama kita bergerak bersama, solid, dan kolektif,” kata Wahyu.

Country Director Indonesia and Pacific BBC Media Action, Rachel McGuinn menjelaskan bahwa AI telah membawa perubahan signifikan bagi industri media, termasuk di Indonesia. Merespons situasi tersebut, tim peneliti BBC Media Action mengembangkan panduan riset untuk memetakan secara lebih mendalam mengenai yang sebenarnya terjadi pada jurnalis Indonesia dalam menghadapi perkembangan AI, serta mempelajari dampak teknologi ini dalam memengaruhi praktik dan ekosistem kerja.

Proyek pengembangan panduan riset yang dinamakan Public Interest Media and Healthy Information Environments (PIMHIE) ini merupakan bagian dari program global yang juga dilaksanakan di Sierra Leone, Peru, dan Zambia. Meski karakter pasar media di masing-masing negara berbeda, tantangan yang dihadapi relatif serupa, terutama terkait disrupsi digital dan perkembangan kecerdasan artifisial atau AI yang memengaruhi industri media secara global.

Tentang Public Interest Media and Healthy Information Environments (PIMHIE) 

Kebutuhan akan platform yang menjembatani riset global, keahlian di tingkat internasional, dan praktik media lokal kian mendesak. Oleh karena itu Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bekerja sama dengan BBC Media Action melalui proyek Public Interest Media and Healthy Information Environments (PIMHIE) berupaya menjawab kesenjangan tersebut dengan mendiseminasikan riset terkait AI yang relevan bagi ruang redaksi, sekaligus memfasilitasi dialog mengenai keberlanjutan bisnis media di era AI.

Dengan mempertemukan praktisi media, regulator, asosiasi industri, serta pemangku kepentingan di sektor teknologi, forum ini ditujukan untuk mendorong diskusi yang berbasis informasi, kolaborasi lintas sektor, dan pembelajaran bersama. Pertemuan ini juga menjadi momentum untuk mempererat jejaring dan solidaritas komunitas media Indonesia beserta para mitranya dalam menghadapi tantangan transformasi digital. (*)