Press Release

AMSI Soroti Masa Depan Media Digital dengan Kehadiran Kreator Konten, dan Homeless Media

Tim Sekretariat
Jumat 26 Juni 2026

Jakarta, 25 Juni 2026 — Lanskap media digital Indonesia sedang mengalami pergeseran struktural yang fundamental. Perusahaan media berita yang selama puluhan tahun menjadi penjaga gawang informasi publik, kini menghadapi kenyataan yang belum pernah ada sebelumnya: hadirnya jutaan content creator dan homeless media yang mampu meraih dan menggerakkan audiens secara massif, tanpa terikat oleh struktur institusional, biaya redaksi, atau kewajiban etik jurnalistik yang sama. Pergeseran tersebut menjadi pokok pembahasan dalam Diskusi Bulanan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bertajuk "Dinamika Publisher, Content Creator dan Homeless Media di Tengah Creator Economy: Membaca Pergeseran Struktur Lanskap Media Digital Indonesia" yang digelar di Jakarta, Kamis (25/6).

Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika, mengatakan perubahan perilaku publik dalam mengkonsumsi informasi telah mengubah fondasi industri media. Menurutnya, media, platform digital, dan kreator konten kini berada dalam satu ekosistem yang sama, tetapi belum memiliki kesamaan perspektif mengenai peran, tanggung jawab, serta aturan mainnya. "Diskusi ini berupaya membangun kesamaan persepsi mengenai posisi media, platform digital, maupun kreator konten dalam ekosistem informasi yang kredibel. Kita juga perlu mendefinisikan ulang apa yang dimaksud dengan media dan jurnalisme di era ekonomi kreator," ujar Wahyu.

Ia menyoroti hasil berbagai riset yang menunjukkan media sosial kini menjadi sumber utama informasi masyarakat. Di sisi lain, trafik ke situs berita terus menurun seiring meningkatnya penggunaan media sosial dan teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai pintu masuk memperoleh informasi. Menurut Wahyu, kondisi tersebut menuntut pembaruan regulasi yang mampu mengakomodasi beragam bentuk media digital, termasuk kreator konten berbasis berita yang berkembang di berbagai platform.

Anggota Dewan Pers, Dahlan Dahi, menegaskan bahwa diskusi mengenai kreator konten tidak semata-mata berbicara tentang model bisnis media, tetapi mengenai kualitas informasi yang diterima publik. "Persoalan utamanya adalah ketika kreator memiliki audiens yang sangat besar. Semakin besar pengaruhnya terhadap publik, semakin penting pula pembahasan mengenai tanggung jawabnya," kata Dahlan.

Ia menjelaskan bahwa jurnalisme memiliki pembeda utama berupa kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik, mulai dari proses memperoleh informasi, mengolahnya, hingga mendistribusikannya kepada masyarakat.

Menurut Dahlan, identitas setiap pelaku dalam ekosistem informasi perlu diperjelas agar mekanisme akuntabilitas dapat diterapkan secara tepat. "Kalau memilih menjadi pers, maka tunduk pada Undang-Undang Pers, Kode Etik Jurnalistik, dan mekanisme Dewan Pers. Jika bukan pers, tentu pendekatan regulasinya berbeda. Yang tidak boleh adalah ruang informasi tanpa etika," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kehadiran kecerdasan buatan generatif tidak menghilangkan fungsi jurnalisme. "Generative AI tanpa jurnalisme ibarat mesin yang tidak memiliki mata dan telinga. AI membutuhkan informasi baru yang terus diproduksi jurnalisme agar tetap memahami realitas," kata Dahlan. Namun, ia mengakui model bisnis media berbasis trafik website menghadapi tantangan besar akibat menurunnya kunjungan dari mesin pencari dan meningkatnya penggunaan AI Overview.

Sementara itu Chief Operating Officer Kapanlagi Youniverse (KLY), Wenseslaus Manggut, menilai industri media sedang memasuki fase transformasi paling mendasar sejak internet berkembang. Menurutnya, media selama bertahun-tahun terlalu bergantung pada trafik mesin pencari dan konten evergreen. Ketika AI mulai menjawab kebutuhan informasi secara langsung, model bisnis tersebut kehilangan pondasinya.

"Kita tidak bisa lagi hanya menjual traffic website. Yang harus dibangun adalah kualitas konten, komunitas, dan kehadiran media di platform sosial," ujarnya. Wenseslaus memperkirakan media akan semakin mengandalkan media sosial sebagai kanal distribusi utama, bukan lagi sekadar sumber trafik menuju situs berita.

Dalam konteks itu, ia melihat kolaborasi antara perusahaan pers dan kreator konten sebagai peluang, bukan ancaman. Menurutnya, perusahaan pers memiliki modal utama berupa kredibilitas dan standar jurnalistik, sedangkan kreator memiliki kemampuan menjangkau audiens yang jauh lebih luas. "Media membawa unsur kepercayaan. Kreator memperluas jangkauan. Alih-alih saling menggantikan, keduanya justru bisa saling melengkapi," katanya.

Lebih lanjut, Chief Operating Officer sekaligus Co-Founder Big Alpha, Vinsen Adhitya, menjelaskan bahwa banyak media baru sebenarnya lahir bukan sebagai perusahaan pers, melainkan sebagai komunitas yang berkembang mengikuti perubahan algoritma media sosial.

Ia mengatakan platform digital telah bergeser dari sistem berbasis komunitas menjadi berbasis minat (interest-based algorithm). Pergeseran tersebut memungkinkan konten menjangkau audiens yang jauh lebih luas tanpa bergantung pada hubungan sosial antar pengguna. "Kami awalnya membangun komunitas, bukan media. Namun seiring berkembangnya distribusi informasi dan audiens, kami kemudian dipersepsikan sebagai media," ujar Vinsen.

Vinsen pun menuturkan bahwa Big Alpha membutuhkan kejelasan mengenai posisi, tanggung jawab yang harus dipenuhi, serta hak yang melekat pada identitas tersebut.(*)