Press Release
AMSI Latih 18 Jurnalis Wilayah Jawa dan Sumatera untuk Garap Konten Cek Fakta di Media Sosial
Tim Sekretariat
Selasa 10 Februari 2026
Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), bekerja sama dengan Internews dan didukung oleh European Union, menyelenggarakan training “Media Sosial untuk Cek Fakta” selama dua hari, pada 6-7 Februari 2026, bertempat di Hotel Grove Suites by Grand Aston, Jakarta Selatan. Acara ini dibuka oleh Yulis Sulistyawan, Ketua Bidang Bisnis dan Kemitraan AMSI, yang menekankan pentingnya verifikasi informasi di era media sosial.
Dalam sambutannya, Yulis menyoroti perubahan perilaku konsumsi informasi di Indonesia. Ia menyebut bahwa traffic website kini menurun karena generasi muda, khususnya Gen Z, cenderung lebih memilih konten video daripada membaca teks. “Indonesia merupakan negara dengan pengguna TikTok terbanyak di dunia, mencapai 160 juta orang. Ironisnya, hoaks justru semakin banyak diproduksi dalam format video. Salah satu contohnya adalah insiden yang menimpa eks Menteri Keuangan Sri Mulyani saat rumahnya dijarah oleh massa pada Agustus 2025. Jika teks cenderung lebih informatif, konten video justru banyak mengandung informasi keliru,” ujar Yulis.
Yulis menambahkan bahwa korban hoaks melalui konten video tidak hanya pejabat publik, tetapi juga masyarakat umum, komunitas, dan korporasi. “Dalam kondisi ini, cek fakta harus menjadi tulang punggung media. Saat ini, semua orang bisa menjadi jurnalis atau influencer, sehingga kita memiliki tanggung jawab untuk meluruskan informasi yang benar,” imbuhnya.
Sementara itu, Elin Y. Kristanti, Direktur Eksekutif AMSI, menyoroti tantangan sebaran hoaks yang semakin kompleks. Ia mengingatkan bahwa penting memahami motif di balik produksi hoaks, termasuk kebohongan yang memiliki tujuan terselubung, seperti propaganda perang. Contohnya, Radio Télévision Libre des Mille Collines (RTLM) di Rwanda, yang berperan dalam menghasut genosida tahun 1994 melalui penyebaran kebencian terhadap suku Tutsi dan Hutu.
Elin juga menekankan peran influencer yang lebih banyak didengar dibanding media mainstream, karena konten mereka lebih santai dan relevan dengan audiens Gen Z. “Di media sosial, siapa pun bisa berperan sebagai pemeriksa fakta. Konten yang relatable membuat informasi lebih mudah diterima,” ujarnya.
Selain itu, Elin menyoroti tantangan di era kecerdasan buatan (AI). “Generasi muda kini lebih banyak curhat melalui teknologi digital. Algoritma tidak netral dan memiliki kepentingan tertentu, sehingga kerja cek fakta menjadi semakin kompleks,” jelasnya.
Sebagai upaya menghadapi tantangan ini, AMSI mengembangkan modul training yang difokuskan pada pembuatan konten pemeriksa fakta di media sosial. Training ini diikuti 18 jurnalis dan social media specialist dari berbagai wilayah anggota AMSI, termasuk Aceh, Riau, Batam, Lampung, Sumatera Selatan, Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.
Training “Media Sosial untuk Cek Fakta” ini merupakan langkah strategis AMSI untuk memperkuat literasi digital, meningkatkan kapasitas jurnalis, dan mendukung penyebaran informasi yang akurat di media sosial. Kegiatan yang sama akan dilakukan bagi jurnalis dan sosial media specialists di wilayah Kalimantan, dan Indonesia Timur pada 13-14 Februari 2026 di Bali.(*)












