Press Release
Jurnalisme Bermakna, Nilai Baru di Tengah Disrupsi AI
Tim Sekretariat
Jumat 1 Mei 2026
Jakarta, 30 April 2026 - Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) kembali menggelar diskusi bulanan, kali ini dengan tema “Trust, Tech, Revenue: Masa Depan Media di Indonesia”. Forum ini mempertemukan pelaku industri media untuk membedah perubahan lanskap bisnis dan teknologi, khususnya dampak kehadiran kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) terhadap keberlanjutan media.
Dalam diskusi tersebut, CEO Kompas Gramedia Group, Andy Budiman menyoroti dampak percepatan adopsi teknologi, terutama sejak kemunculan generative AI seperti ChatGPT pada akhir 2022, terhadap perubahan cara industri media beroperasi. Ia menilai, berbeda dari sebelumnya, kini media tidak lagi memiliki banyak waktu untuk beradaptasi secara perlahan.
“Dulu kita masih bisa bilang ‘nanti dulu’, tapi sekarang perubahan terlalu cepat. Kita tidak punya kemewahan itu lagi,” ujar Andy dalam diskusi yang berlangsung di Gedung Tempo, Jakarta.
Ia mengingatkan bahwa secara historis, model bisnis media tidak banyak berubah selama ratusan tahun, yakni menjual konten kepada audiens atau menjual perhatian (attention) audiens kepada pengiklan. Namun, masuknya platform digital seperti mesin pencari dan media sosial telah menghadirkan perantara (intermediaries) yang memutus hubungan langsung antara media dan pembacanya.
“Dulu orang baca Kompas atau Tempo langsung ke medianya. Sekarang mereka datang dari Google, Facebook, atau TikTok. Bahkan monetisasinya juga lewat perantara,” katanya.
Andy menjelaskan, dalam ekosistem digital saat ini, sebagian besar inventori iklan media bahkan dijual melalui mekanisme programatik yang juga melibatkan platform pihak ketiga. Di Kompas Gramedia Group, misalnya, sekitar 70 persen inventori digital dijual melalui skema tersebut.
Namun, tantangan semakin kompleks dengan hadirnya AI. Jika sebelumnya platform masih memberikan trafik atau eksposur kepada media, AI justru mengambil konten untuk diolah tanpa memberikan atribusi yang jelas.
“AI mengonsumsi konten sebagai data. Tapi yang jadi masalah, value yang kita ciptakan tidak kembali ke kita. Tidak ada trafik, tidak ada atribusi. Semua hilang,” ujar Andy.
Dampaknya pun signifikan. Andy mengungkapkan bahwa trafik website media mengalami penurunan tajam, bahkan hingga sekitar 56 persen dalam setahun terakhir. Di sisi lain, konsumsi konten justru meningkat di platform media sosial.
“Sekarang hanya 10 persen page views ada di ‘rumah’ kita, sementara 90 persen ada di luar, di platform sosial. Tapi ironisnya, pendapatan terbesar masih datang dari website kita sendiri,” ujarnya.
Fenomena ini menciptakan paradoks, yaitu audiens berpindah ke platform lain, tetapi monetisasi belum sepenuhnya mengikuti. Ketergantungan pada iklan pun semakin rentan, terutama di tengah tekanan ekonomi dan persaingan platform.
Sebagai respons, Andy menekankan pentingnya kembali pada esensi jurnalisme. Ia mengutip gagasan almarhum Jakob Oetama tentang pentingnya “jurnalisme makna” selain sekadar jurnalisme fakta.
“Fakta sekarang bertebaran di mana-mana, bahkan dari citizen journalism. Tapi media punya peran untuk memverifikasi. Dan lebih dari itu, kita harus memberi makna. Itu yang tidak mudah dikomoditikan,” ujarnya.
Selain memperkuat kualitas konten, media juga didorong untuk mendiversifikasi sumber pendapatan. Andy mencontohkan berbagai inisiatif Kompas Gramedia, mulai dari edisi khusus yang menyasar pembaca langsung, hingga pengembangan bisnis berbasis riset, edukasi, dan layanan profesional.
“Edisi khusus seperti ulang tahun Kompas atau Bobo terbukti bisa menghasilkan revenue besar dari pembaca. Ini menunjukkan potensi B2C masih ada,” katanya.
Di sisi lain, peluang B2B juga terus dikembangkan, seperti layanan riset, institusi pendidikan, hingga produk langganan berbasis industri. Namun, untuk menghadapi AI, Andy menilai model bisnis licensing menjadi salah satu opsi yang paling realistis.
“Kita tidak bisa terus memberikan konten gratis untuk AI. Harus ada mekanisme licensing. Tapi itu juga butuh kesiapan, termasuk digitalisasi arsip dan pengelolaan data,” ujarnya.
Ia menambahkan, media memiliki aset berharga berupa konten terverifikasi yang dibutuhkan oleh berbagai industri, mulai dari platform AI hingga layanan dokumenter dan agensi foto.
“Media bukan hanya konsumen, tapi juga bisa jadi supplier konten global,” kata Andy.
Sementara itu, dari perspektif platform, Head of Sports and News for Southeast Asia TikTok, Emil Gaffar menegaskan bahwa konten berita masih memiliki posisi penting di ekosistem digital, termasuk di TikTok.
“Di Indonesia, 72 persen pengguna TikTok setiap hari mengonsumsi hard news. Bahkan kalau dibandingkan dengan konten lain seperti olahraga atau hiburan, news tetap yang paling penting,” ujar Emil.
Ia menekankan bahwa TikTok tidak hanya berfungsi sebagai platform distribusi, tetapi juga sebagai mitra yang aktif berkolaborasi dengan perusahaan media melalui pendekatan produk dan kemitraan.
“Kami terus berdialog dengan partner media untuk memahami kebutuhan mereka, baik dari sisi distribusi maupun monetisasi,” katanya.
Meski demikian, dinamika hubungan antara media dan platform tetap menjadi isu krusial. Di satu sisi, platform membuka akses ke audiens yang lebih luas. Namun di sisi lain, mereka juga mengubah struktur nilai dalam industri.
Andy pun menyampaikan analogi yang kuat, yaitu bahwa media harus seperti pohon yang memiliki akar kokoh dan ranting-ranting yang mendukung.
“Kalau badai datang, mungkin ada ranting yang patah. Tapi selama akarnya kuat, yaitu jurnalisme, kita masih bisa bertahan dan berbuah,” ujarnya.
Diskusi AMSI ini mencerminkan bahwa masa depan media tidak lagi bisa bergantung pada satu model bisnis atau satu kanal distribusi. Dalam situasi yang terus berubah, media dituntut untuk kembali pada akar jurnalisme sekaligus memperluas cabang bisnisnya.












