Press Release
Pageview Tak Lagi Cukup, Media Dituntut Menjadi Rujukan di Era AI
Tim Sekretariat
Kamis 24 September 2026
Jakarta, 23 September 2026 — Selama bertahun-tahun, pageview menjadi salah satu mata uang utama bisnis media digital. Semakin banyak pembaca yang mengklik artikel, semakin besar peluang media menjual iklan, sponsorship, maupun program komersial. Namun, pola itu mulai bergeser ketika pembaca tidak lagi selalu datang ke situs media untuk mendapatkan informasi.
Perubahan tersebut menjadi salah satu pokok bahasan Webinar Road to Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026 yang diselenggarakan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Rabu, 23 September 2026. Mengangkat tema “Is Your Pageview Still Worth Selling?”, webinar menghadirkan Director of Business Growth and Innovation Maverick Indonesia, Cahyanto Arie Wibowo, untuk membedah perubahan perilaku audiens, bisnis media, serta peluang media di tengah perkembangan artificial intelligence (AI).
Webinar ini merupakan rangkaian ketiga Road to IDMC 2026, menjelang penyelenggaraan IDMC 2026 pada 28–29 Oktober di Surabaya.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Suwarjono mengatakan, perubahan paling terasa terjadi pada lalu lintas situs media. Di satu sisi, trafik website cenderung menurun. Di sisi lain, konsumsi konten melalui media sosial dan platform AI terus meningkat.
“Website bisa jadi traffic-nya turun, tapi konten kita tetap akan ada di mana-mana,” ujar Suwarjono. Menurut dia, media kini perlu memikirkan distribusi konten melampaui platform yang selama ini menjadi “rumah” utama mereka.
Persoalannya bukan semata-mata soal distribusi. Perubahan perilaku audiens juga belum otomatis menghasilkan model bisnis baru. “Kita ini sebagai produsen konten sangat banyak sekali pekerjaan, tapi revenue-nya kok tidak mengikuti,” kata Suwarjono.
Dari Search Engine ke Answer Engine
Cahyanto memulai paparannya dengan mengajak peserta mencoba sendiri cara kerja mesin berbasis AI seperti ChatGPT, Google AI Overview, dan Perplexity. Ketika pengguna bertanya, misalnya, mengenai merek yang layak dipertimbangkan, mesin AI tidak sekadar menampilkan daftar tautan. Mesin tersebut menyusun jawaban dan memilih sumber yang dianggap relevan.
Di titik inilah muncul persoalan baru bagi media, yaitu siapa yang dikutip dalam jawaban AI?
Presentasi Maverick menyebut fenomena tersebut sebagai zero-click era. Dalam paparan itu, data yang dikutip dari Similarweb menunjukkan sekitar 45 persen pencarian Google berakhir tanpa klik sekitar satu dekade lalu. Angka tersebut disebut telah mencapai 68 persen pada 2026. Presentasi yang sama, dengan merujuk Reuters Institute Journalism, Media, and Technology Trends and Predictions 2026, juga menunjukkan rujukan Google ke situs penerbit turun 33 persen secara global dan 38 persen di Amerika Serikat.
Perubahan serupa terjadi di Indonesia. Paparan Maverick mengutip e-Conomy SEA 2025 yang menyebut 79 persen pengguna Indonesia telah belajar menggunakan AI, 58 persen menggunakan alat AI setiap hari, dan 51 persen telah bertanya atau berinteraksi dengan chatbot AI.
Menurut Cahyanto, kondisi tersebut tidak serta-merta berarti media kehilangan pembaca. Yang mulai hilang adalah atribusi, sebagai jejak yang menunjukkan bahwa seseorang membaca informasi dari media tertentu melalui kunjungan langsung ke situs.
“Anda tidak kehilangan pembaca, hanya saja atribusinya yang mulai hilang,” kata Cahyanto.
Karena itu, paradigma media bergeser. Jika sebelumnya search engine mengarahkan pengguna kepada sejumlah tautan dan pembaca memilih sendiri sumbernya, answer engine menyajikan rangkuman jawaban sekaligus menentukan sumber yang dianggap layak dikutip. Target media pun tidak lagi sekadar menguasai peringkat kata kunci, tetapi membangun kredibilitas agar menjadi sumber yang dipercaya mesin.
Dari Pageview ke Kredibilitas
Perubahan tersebut membawa konsekuensi terhadap cara media menjual nilai kepada pengiklan dan merek. Jika sebelumnya pageview menjadi salah satu dasar utama untuk menjual iklan dan sponsorship, era AI menempatkan reputasi, otoritas, dan kepercayaan sebagai aset yang semakin penting.
“Pada akhirnya, kredibilitas jurnalistik adalah salah satu dan satu-satunya pertahanan yang tidak akan pernah bisa ditiru atau bahkan dipalsukan oleh mesin AI manapun,” ujar Cahyanto.
Di sinilah konsep Generative Engine Optimization (GEO) menjadi relevan. Dalam presentasinya, Maverick menjelaskan GEO sebagai praktik agar sebuah brand dapat ditemukan, dipahami, dikutip, dan direkomendasikan oleh mesin AI. Fokusnya bukan lagi semata-mata memenangkan posisi di halaman hasil pencarian, melainkan menjadi bagian dari narasi yang disusun AI.
Bagi media, konsekuensinya jelas, yaitu konten perlu memiliki otoritas, informasi yang jelas, narasi yang konsisten, serta validasi pihak ketiga. Media tidak cukup hanya membuat konten yang mudah ditemukan, sebab konten juga harus cukup kredibel untuk dijadikan rujukan.
Menulis untuk Manusia dan Mesin
Cahyanto juga menekankan bahwa adaptasi terhadap AI tidak berarti media harus mengorbankan kebutuhan pembaca. Justru sebaliknya, konten yang baik untuk manusia dapat menjadi fondasi agar konten mudah dipahami mesin.
Ia menyarankan media tetap berpegang pada prinsip jurnalistik, termasuk 5W+1H, pengalaman lapangan, wawancara, kutipan narasumber, data, struktur tulisan yang jelas, serta penggunaan subjudul dan elemen visual yang membantu pembaca. Pada saat yang sama, informasi penting perlu disajikan secara jelas sejak bagian awal sehingga lebih mudah dipahami mesin AI.
Dengan demikian, tantangan media bukan memilih antara manusia atau mesin. Tantangannya adalah membuat konten yang mampu melayani keduanya tanpa mengorbankan standar jurnalistik.(*)











