Press Release
Kolaborasi dengan Homeless Media, Menguntungkan bagi Ekosistem Informasi dan Menjadi Peluang Revenue Stream Baru
Tim Sekretariat
Selasa 8 September 2026
Jakarta, 7 September 2026 — Peta distribusi informasi telah berubah. Audiens semakin banyak menemukan berita bukan dari situs media, melainkan dari media sosial, akun komunitas, dan kanal digital yang tumbuh di tingkat lokal. Bagi industri media, perubahan ini bukan sekadar pergeseran kanal distribusi. Ia menuntut cara baru dalam membangun jaringan, menjaga kualitas jurnalistik, sekaligus menciptakan sumber pendapatan.
Persoalan itu mengemuka dalam webinar Road to IDMC 2026 bertajuk “Menelisik Ekosistem Media Digital: Ruang Kolaborasi, Distribusi, dan Model Bisnis Baru”, Senin, 7 September 2026. Diskusi yang digelar Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) menghadirkan Founder Indonesia Social Media Network (ISMN) Arif Budianto dan pengelola akun Info Bandung Timur, Adelina Nur Afifah.
Ketua Umum AMSI Wahyu Dhyatmika mengatakan perubahan perilaku konsumsi informasi membuat media perlu membuka diri terhadap bentuk kolaborasi baru. Ia menyoroti kecenderungan audiens mendapatkan berita melalui platform sosial serta dampak perkembangan generative AI terhadap trafik organik ke situs berita.
“Opportunity ke depan adalah kolaborasi antara mainstream media dan sosial media,” ujar Wahyu.
Menurut Wahyu, potensi kolaborasi tidak hanya berada pada influencer besar. Akun media alternatif di daerah, termasuk yang bekerja pada skala hyperlocal, memiliki kedekatan dengan komunitas dan dapat menjadi bagian penting dari ekosistem baru tersebut.
Wahyu menilai inisiatif ISMN relevan karena mencoba mengagregasi akun-akun media alternatif hingga tingkat kabupaten dan kecamatan. Model itu, menurut dia, sekaligus menjawab sejumlah kritik terhadap homeless media, terutama menyangkut etika, kualitas konten, penerapan disiplin jurnalistik, dan keberlanjutan bisnis.
Membangun Jembatan Antar Media
Arif Budianto menjelaskan ISMN dibentuk untuk mempertemukan kekuatan media sosial lokal dengan media konvensional. Jaringan ini kini menjadi wadah bagi ratusan akun homeless media di berbagai daerah.
Istilah homeless media merujuk pada akun media yang tidak memiliki rumah domain atau situs sendiri dan mengandalkan platform seperti Instagram, TikTok, X, atau Facebook untuk mendistribusikan informasi. Dalam praktiknya, akun-akun tersebut menjalankan fungsi yang semakin dekat dengan kerja jurnalistik: menerima laporan warga, melakukan verifikasi, mengolah informasi, dan menyebarkannya kepada publik.
Menurut Arif, masalah utama yang dihadapi akun-akun tersebut bukan semata soal jumlah audiens, melainkan keterbatasan akses terhadap jaringan, edukasi jurnalistik, perlindungan hukum, dan peluang komersial.
Karena itu, ISMN mengembangkan empat pendekatan, yaitu kolaborasi, advokasi, edukasi, dan akses komersial. Kolaborasi dapat berupa pertukaran informasi maupun kerja komersial. Edukasi diarahkan pada peningkatan kemampuan verifikasi dan pemahaman jurnalistik, sementara akses komersial membuka kemungkinan agar jaringan tersebut menghasilkan manfaat ekonomi bagi anggotanya.
“Kalau kita berdiri sendiri, masing-masing, maka kita akan pada posisi yang sama-sama berat. Tapi ketika berkolaborasi, akan menjadi kekuatan ekosistem yang lebih baik,” kata Arif.
Model tersebut bekerja dua arah. Akun hyperlocal dengan jumlah pengikut terbatas dapat memperoleh jangkauan lebih luas melalui media yang memiliki audiens lebih besar. Sebaliknya, media besar mendapatkan akses ke komunitas yang lebih spesifik di tingkat lokal.
“Kalau semakin banyak akun di suatu daerah, maka itu menjadi sebuah kekuatan kita bersama untuk bisa campaign bersama,” ujar Arif.
Menurut dia, pola bottom-up ini telah diterapkan dalam sejumlah kampanye. Akun lokal membawa isu atau kegiatan di wilayahnya untuk kemudian didistribusikan melalui akun media sosial yang memiliki jangkauan lebih luas. Model serupa, kata dia, dapat direplikasi oleh media konvensional di berbagai daerah.
Dari Distribusi ke Revenue
Kolaborasi juga dipandang sebagai jawaban atas persoalan bisnis media digital. Arif mengatakan keterbatasan koneksi dan jumlah klien di suatu daerah dapat diatasi dengan membangun jaringan lintas wilayah.
“Ketika kita sudah kolaborasi, maka kita tidak akan ke mana-mana. Pasti akan kami berikan ke situ,” ujarnya, menggambarkan jaringan lokal yang dapat menjadi tujuan distribusi kampanye ketika ada permintaan dari klien.
Bagi Adelina Nur Afifah, pengalaman Info Bandung Timur menunjukkan bahwa kedekatan dengan audiens dapat menjadi aset bisnis sekaligus editorial.
Info Bandung Timur mengandalkan laporan warga, artikel dari sumber terpercaya, serta grup WhatsApp untuk memperoleh informasi mengenai peristiwa lokal. Konten berfokus pada Bandung Timur, termasuk UMKM, peristiwa sehari-hari, cuaca, kecelakaan, kehilangan, dan berbagai kebutuhan informasi warga.
“Karena kami lokal, jadi yang pastinya kami seperti tetangga sama audiens-audiens yang ada di media sosial,” kata Adelina.
Kedekatan tersebut juga membuat akun lokal dapat memperoleh informasi lebih cepat dari warga yang berada langsung di lokasi kejadian. Namun, ketergantungan pada platform membawa risiko lain, mulai dari shadow ban, penghapusan konten, kehilangan akun, hingga persoalan hukum. Di sisi bisnis, persaingan juga semakin ketat karena semakin banyak akun lokal yang menyasar wilayah yang sama.
Bergabung dengan ISMN membuka akses baru bagi Info Bandung Timur. Selain pelatihan dan pertukaran pengetahuan dengan pengelola akun lain, jaringan tersebut mempertemukan mereka dengan peluang kolaborasi event, kampanye, UMKM, dan brand. Peluang bahkan berkembang hingga ke luar Bandung.
Untuk memperkuat pendapatan, Adelina menyarankan media hyperlocal membangun kolaborasi antar akun, menyesuaikan penawaran dengan kebutuhan klien, serta mengembangkan komunitas melalui kanal seperti WhatsApp Group.
“Kita bisa bekerja sama dengan akun homeless yang lainnya juga,” ujarnya. Kolaborasi, kata dia, dapat memperluas jangkauan kampanye sekaligus meningkatkan kepercayaan klien terhadap media alternatif.
Persoalan Kredibilitas dan Payung Hukum
Pertumbuhan homeless media juga menyisakan persoalan regulasi. Arif mengatakan akun-akun tersebut telah melakukan kerja-kerja jurnalistik, tetapi belum memiliki payung hukum yang secara spesifik menaungi posisi mereka.
Kondisi itu membuat pengelola homeless media menghadapi dua risiko sekaligus, yaitu ketergantungan terhadap keputusan platform dan potensi persoalan hukum akibat konten yang dipublikasikan. ISMN, kata Arif, tengah mendorong advokasi bersama dan membuka ruang dialog dengan pihak terkait untuk mencari solusi.
Sementara menunggu kejelasan regulasi, ia melihat afiliasi dengan media konvensional yang telah memiliki legalitas sebagai salah satu pilihan. Model tersebut diharapkan memberikan perlindungan sekaligus membuka manfaat ekonomi bagi kedua pihak.
Arif juga menekankan pentingnya peningkatan kompetensi. Ia menyebut pelatihan dan sertifikasi jurnalistik sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas ekosistem informasi. Kolaborasi ISMN dengan Tempo Institute, misalnya, menjadi salah satu bentuk edukasi yang mendapat respons positif dari pengelola homeless media.
Bagi Adelina, kredibilitas tetap menjadi modal utama. Info Bandung Timur tidak menerima seluruh tawaran kerja sama, termasuk kampanye politik, tanpa melakukan verifikasi dan mempertimbangkan dampaknya terhadap audiens.
“Kita enggak asal-asalan untuk menayangkan konten,” katanya.
Ia menilai hubungan dengan audiens harus dibangun melalui komunikasi dua arah. Ketika terjadi persoalan atau miskomunikasi, pengelola akun memilih menghubungi audiens secara langsung.
“Kepercayaan ataupun kerja sama itu melalui komunikasi dua arah,” ujar Adelina.
Diskusi Road to IDMC 2026 menunjukkan bahwa masa depan media digital tidak hanya ditentukan oleh media dengan audiens terbesar. Kekuatan justru dapat lahir ketika media nasional, media lokal, homeless media, komunitas, dan news creator saling menghubungkan jaringan dan keahlian.
Bagi Arif, peluang tersebut masih terbuka luas. “Mari kita berkolaborasi,” katanya, sembari membuka kesempatan bagi media dari berbagai provinsi untuk membangun jaringan ISMN di daerah masing-masing. Model itu diharapkan menciptakan manfaat finansial sekaligus memperluas jaringan distribusi.
Road to IDMC 2026 menjadi pembuka rangkaian menuju Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026, yang akan diselenggarakan di Surabaya pada Oktober 2026. Rangkaian diskusi tersebut akan berlanjut dengan agenda lain untuk membahas perkembangan jurnalistik, teknologi, platform, strategi bisnis, dan inovasi dalam pengelolaan media digital. (*)












