Press Release

News Creator, Jalan Baru Media Menggali Revenue

Tim Sekretariat
Kamis 1 Oktober 2026

Jakarta, 29 September 2026 — Media tidak lagi menjadi satu-satunya pintu bagi publik untuk mendapatkan berita. Di tengah perubahan perilaku konsumsi informasi, news creator tumbuh sebagai sumber informasi yang mengandalkan personalitas, kedekatan dengan audiens, serta kemampuan mengemas isu sesuai karakter platform digital.

Fenomena itu menjadi pokok diskusi bulanan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bertema “News Creator Sebagai Peluang Revenue Baru Bagi Media”, Rabu, 30 September 2026. Diskusi yang digelar bersama Universitas Multimedia Nusantara (UMN) tersebut mempertemukan Ketua Umum AMSI Wahyu Dhyatmika, Rektor UMN Andrey Andoko, dan Pemimpin Redaksi Tirto.id Rachmadin Ismail.

Diskusi berangkat dari perubahan pola konsumsi informasi yang membuat hubungan media dan news creator tak lagi sederhana sebagai kompetitor. Media memiliki newsroom, jaringan wartawan, kemampuan verifikasi, arsip, dan reputasi institusional. Sementara kreator unggul dalam kedekatan dengan audiens, personal branding, kelincahan produksi, serta pemahaman terhadap karakter tiap platform.

Audiens Tidak Kehilangan Minat, Cara Menemukannya yang Berubah

Ketua Umum AMSI, Wahyu mengatakan salah satu anggapan yang perlu dibongkar adalah bahwa anak muda tidak lagi tertarik pada berita. Menurut dia, yang berubah adalah cara mereka menemukan dan mengonsumsi informasi.

Dalam pemaparannya, Wahyu mengutip riset yang menunjukkan hanya 22 persen anak muda yang secara sengaja mencari berita, sedangkan 14 persen mengaksesnya langsung melalui situs atau aplikasi berita. Sebagian lainnya menemukan berita ketika berselancar di media sosial.

“Minat untuk berita belum mati. Perilaku yang berubah,” kata Wahyu.

Ia juga memaparkan bahwa 73 persen responden berusia 18–24 tahun menonton video pendek setiap pekan. Namun, pada saat yang sama, 52 persen kelompok usia tersebut masih menonton video berita berdurasi lebih dari lima menit dan 59 persen mendengarkan podcast setiap bulan. Data itu, menurut Wahyu, menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata durasi.

“Masalahnya bukan durasinya mau pendek atau panjang, video panjang atau video pendek, tapi formatnya, platformnya, topiknya sesuai tidak dengan kebutuhan,” ujarnya.

Wahyu juga menyoroti pergeseran kepercayaan dari institusi ke individu. Dalam materi yang dipaparkan, 51 persen responden berusia 18–24 tahun disebut lebih memperhatikan kreator individu dibandingkan merek berita di media sosial dan video. Sementara 38 persen responden berusia di bawah 30 tahun rutin memperoleh berita dari kreator atau influencer.

Menurut Wahyu, kondisi tersebut membuat media perlu mengubah cara memandang kreator. Ia menawarkan tiga pendekatan, yaitu imitate atau yakni mengadopsi gaya kreator ke dalam newsroom; integrate, dengan merekrut atau mengakuisisi kreator; serta ally, melalui kemitraan dengan kreator independen.

Tirto Membelah Newsroom

Rachmadin Ismail mengatakan Tirto memilih menghadapi disrupsi dengan belajar dari para kreator. Ketika bergabung pada 2023, ia melihat kondisi bisnis dan lalu lintas editorial Tirto sedang menghadapi tekanan.

“Satu-satunya hal yang kita perlakukan secara konsisten yang bisa berdampak semua hal adalah belajar,” kata Madin.

Ia kemudian menerapkan kebiasaan belajar setidaknya 30 menit setiap hari, termasuk mempelajari praktik para kreator dan media alternatif. Dari proses itu, Tirto membedakan pengelolaan konten untuk situs dan media sosial.

Tim yang melayani situs berfokus pada audiens yang lebih dewasa dan membutuhkan konten mendalam. Sementara tim media sosial menyasar audiens yang lebih muda dengan format yang lebih visual, satir, dan sesuai karakter platform.

Tirto juga tidak selalu mengejar konversi langsung dari audiens muda ke situs. Media itu membangun awareness terlebih dahulu melalui media sosial dan kolaborasi dengan kreator.

“Kita tidak mau buru-buru meng-convert Gen Z jadi baca website. Yang penting orang terpapar, tahu brand-nya Tirto,” ujar Madin.

Dari sisi bisnis, kolaborasi dengan kreator lokal bahkan membuka ceruk yang sulit dijangkau media nasional. Madin mencontohkan pengiklan yang hanya membutuhkan audiens di kawasan tertentu. Media lokal dan kreator dengan komunitas spesifik dapat menawarkan kedekatan dan relevansi yang lebih tinggi.

Tirto kemudian membangun jejaring kreator yang dikurasi dan dilatih, termasuk dalam cek fakta dan kode etik. Jaringan tersebut juga membuka peluang bagi Tirto untuk menawarkan layanan kepada pengiklan melalui kolaborasi dengan para kreator.

Dari Traffic ke Komunitas

Bagi Madin, revenue media ke depan tidak cukup diukur dari jumlah traffic. Tirto mulai membangun komunitas berdasarkan niche tertentu dan menghubungkan audiens digital dengan kegiatan offline.

“Sekarang itu eranya relevansi, bukan hanya sekadar besar dan kuat.”

Ia mencontohkan komunitas pembaca konten sejarah Tirto. Audiens yang sebelumnya hanya berupa angka pembaca digital dikembangkan menjadi komunitas nyata melalui diskusi dan kegiatan offline. Komunitas tersebut kemudian dapat menjadi proposisi bisnis bagi sponsor yang relevan.

Tirto juga bereksperimen dengan model monetisasi berbasis apresiasi pembaca melalui fitur “Traktir Kopi”. Pembaca dapat memberikan donasi kepada penulis atau tim yang menghasilkan artikel yang mereka sukai. Model ini sekaligus digunakan untuk mengukur kualitas konten dari perspektif pembaca.

Media Tetap Dibutuhkan, Asalkan Relevan

Rektor UMN, Andrey Andoko melihat perubahan ini sebagai bagian dari siklus panjang disrupsi teknologi. Ia mengingat ketika media online pertama kali muncul dan dipandang sebelah mata oleh media tradisional. Kemudian muncul media sosial, mesin pencari, dan kini AI.

Menurut Andrey, kebutuhan masyarakat terhadap informasi tidak hilang. Yang berubah adalah jenis informasi dan tempat orang mendapatkannya.

“Konten yang berkualitas kemudian muncul di tempat dan waktu yang tepat,” kata Andrey. Ia menambahkan, informasi yang paling dibutuhkan adalah yang relevan dengan kehidupan audiens dan memberikan manfaat langsung.

Karena itu, Andrey menilai batas antara jurnalis dan news creator tidak perlu dipertajam. Menurut dia, news creator dapat menjadi bagian dari ekosistem jurnalistik selama proses produksinya berlandaskan verifikasi dan prinsip jurnalistik.

“Kalau jurnalistik itu menjadi fondasi dari news creator, maka kita bisa memastikan bahwa konten yang dibuat adalah konten-konten yang kredibel, yang bisa dipercaya,” ujarnya.

Wahyu melihat peluang lain dari perubahan ini, yaitu content licensing untuk platform AI. Menurut dia, media memiliki aset berupa berita dan data yang dapat memiliki nilai ekonomi ketika digunakan sebagai sumber bagi sistem AI. AMSI, kata dia, tengah mendorong pembicaraan mengenai model lisensi tersebut.(*)