Press Release
Monetisasi Media Digital Tak Cukup Mengandalkan Traffic
Tim Sekretariat
Selasa 15 September 2026
Jakarta, 14 September 2026 — Besarnya jumlah audiens belum otomatis menjamin keberlanjutan bisnis media digital. Di tengah perubahan perilaku pengguna, fragmentasi kanal distribusi, dan persaingan pasar iklan digital, media perlu mencari cara untuk meningkatkan nilai ekonomi dari audiens dan inventory yang telah dimiliki.
Persoalan tersebut menjadi bahasan dalam Webinar Road to Digital Media Conference (IDMC) 2026 bertajuk “Menggali Potensi Monetisasi Media Digital untuk Keberlangsungan Bisnis” yang digelar Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Senin, 14 September 2026.
Webinar menghadirkan CEO PT Cipta Teknologi Internasional (CTI) Yogi Triharso dan VP Commercial and Operation PT CTI Adirochkita Wijaya. Keduanya memaparkan perkembangan teknologi periklanan digital serta peluang optimalisasi inventory media melalui pendekatan programmatic advertising.
Yogi mengatakan persoalan yang dihadapi media digital bukan semata-mata soal pendapatan, tetapi juga posisi media dalam ekosistem digital yang saat ini banyak bergantung pada platform global.
“Ini bukan hanya masalah revenue, tapi juga masalah kedaulatan,” kata Yogi.
Menurut dia, dominasi platform global tidak harus dihadapi secara konfrontatif. Teknologi dapat digunakan untuk membangun ruang kolaborasi sehingga pelaku industri media memiliki posisi tawar yang lebih seimbang.
“Kita tidak berhadapan dengan mereka, tapi justru kita kolaborasi dengan mereka untuk mencari dan menciptakan even playing field, di mana persaingan atau kolaborasi kita lebih adil,” ujarnya.
CTI melalui Frolics Digital mengembangkan teknologi periklanan yang ditujukan sebagai ekosistem terintegrasi bagi publisher, media owner, brand, dan advertiser. Sistem tersebut dirancang untuk mendukung kampanye lintas media dan kanal serta terhubung dengan berbagai sumber dan perangkat.
Salah satu infrastrukturnya adalah Supply Side Platform (SSP), yang membantu publisher mengelola inventory iklan sekaligus menghubungkannya dengan berbagai sumber demand. Inventory yang dapat terhubung tidak hanya berasal dari situs web, tetapi juga OTT, CTV, dan digital out-of-home (DOOH).
Traffic Bukan Satu-satunya Ukuran
Adirochkita menyoroti persoalan yang kerap dihadapi publisher, yaitu bahwa traffic tinggi belum tentu menghasilkan monetisasi optimal.
“Traffic yang besar belum tentu berarti monetisasi yang optimal,” kata Adirochkita.
Menurut dia, di balik satu impression terdapat ekosistem yang panjang, mulai dari publisher sebagai pemilik inventory, ad server, SSP, ad exchange, DSP, agency, hingga brand sebagai advertiser.
Karena itu, monetisasi tidak cukup dilakukan dengan menampilkan iklan. Publisher perlu mengelola inventory, membuka akses terhadap berbagai sumber demand, serta melakukan optimasi untuk meningkatkan nilai ekonominya.
Adirochkita menyebut tiga aspek penting dalam pemanfaatan SSP, yakni scale, yield, dan control. Scale berkaitan dengan jumlah inventory yang dapat dimonetisasi, yield dengan besarnya pendapatan dari inventory yang sama, sedangkan control menyangkut kemampuan publisher menentukan unit iklan, harga, sumber demand, dan kualitas iklan.
“Tujuan kita bukan sekadar fill the inventory, tapi fill the right inventory with the right demand at the right value,” ujarnya.
Menurut Adirochkita, publisher juga perlu mengubah cara pandang terhadap traffic. Traffic merupakan input yang harus dikonversi menjadi nilai ekonomi.
“Bukan hanya how do we get more traffic, tapi how do we get more value from the traffic that we already have,” katanya.
Persoalan monetisasi dapat muncul dalam bentuk inventory yang tidak terjual, CPM rendah, keterbatasan sumber demand, rendahnya viewability, kualitas iklan, hingga pengalaman pengguna.
Peluang dari Audiens Lokal
CTI melihat basis pengguna internet Indonesia sebagai sumber potensi inventory yang besar. Berdasarkan materi presentasi, jumlah pengguna internet Indonesia pada 2026 mencapai sekitar 235 juta orang atau 81,72 persen dari populasi. Materi yang sama mengutip We Are Social bahwa lebih dari 44 persen pengguna internet Indonesia terpapar dan menggunakan iklan berbasis web.
Perilaku audiens yang semakin tersebar di berbagai kanal juga membuka peluang monetisasi lintas platform. Frolics Digital menyatakan SSP-nya dapat melayani premium publisher, programmatic DOOH, serta OTT dan CTV.
Yogi menilai konsolidasi inventory juga dapat membuka peluang bagi media lokal dan media dengan skala kecil maupun menengah yang memiliki audiens loyal.
“PR kita adalah volume, di mana volume ini scattered dan tidak terorganisir,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi antarpemilik media dapat menciptakan volume inventory yang lebih besar sehingga memberikan posisi tawar yang lebih kuat dalam ekosistem iklan digital.(*)












