Berita

Disrupsi, Inovasi, dan Tantangan Relevansi

Administrator
Kamis 2 Mei 2024
Suatu cara pandang Sejak pertengahan dekade pertama abad ke-21, kita menyaksikan banyak perusahaan media besar menutup dirinya, mereorganisasi perusahaannya, memperkecil unit usahanya, hingga menutup media cetak dan berganti menggunakan platform media online. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Negara Barat seperti di Amerika Serikat, Eropa Barat, ataupun Australia (Meyer, 2009; Grueskin, Seave & Graves, 2011; Lee-Wright, Philips, Witschge, 2012), tetapi juga terjadi di Indonesia (Bintang et.al, 2022). Satu perkembangan yang juga tak dapat dinafikan adalah kehadiran perusahaan teknologi besar yang membuat proses produksi dan proses distribusi berita pun jadi berubah. Perusahaan teknologi seperti Google, Facebook, yang pada tahun 2017 saja periklanan digital di Amerika dikuasai oleh kedua perusahaan itu hingga 63 persen. Di Indonesia saya kira angka ini bisa mencapai 90 persen. Berkuasanya dua platform raksasa teknologi ini juga berpengaruh pada perkembangan industri media di Indonesia. Google dan Facebook yang juga menjadi distributor berita-berita yang dihasilkan oleh banyak perusahaan media, meraup banyak pendapatan yang tadinya dimiliki perusahaan media tersebut. Karena fenomena ini pulalah fenomena kemunculan SEO (Search Engine Optimation) menjadi suatu keharusan bagi para pembuat konten berita, agar berita yang dihasilkannya dapat mudah terdeteksi dalam mesin pencari seperti Google (Sudibyo 2019; Carlson, 2021). Bapak Ibu sekalian yang terhormat, media massa dan media lain yang mengikuti perkembangannya, dianggap sebagai salah satu pilar demokrasi yang bertugas untuk menyampaikan informasi, memberikan pendidikan kepada publik dan menjadi alat kontrol sosial kepada penguasa (Gunther & Mughan, eds, 2000; Fenton, 2010; Briggs & Burke, 2006). Jika pilar demokrasi mengalami krisis dalam perubahan teknologi saat ini, dapat dibayangkan pilar ini tak dapat berfungsi dengan optimal dalam menjalankan fungsi informasi, pendidikan ataupun kontrol sosial tersebut. Karena pentingnya peran dari pilar demokrasi tersebut, maka menjadi penting juga untuk melihat bagaimana perubahan landscape media saat ini akan mempengaruhi fungsi media ke depannya (Hampton, 2010; Perloff, 2020). Seorang pemikir asal Belanda yang karyanya pernah diterjemahkan oleh Dick Hartoko, van Peursen (dalam buku Strategi Kebudayaan), pernah mengemukakan tiga cara pandang dalam melihat perubahan yang ada di sekitar kita. Pertama, disebut sebagai pandangan yang Mitologis, dimana perubahan yang ada di sekitar kita dilihat dengan ketakutan, kecurigaan, seperti melihat hal yang asing, tak dikenali. Cara pandang kedua adalah cara pandang Ontologis, dimana hal yang asing tadi diperiksa lebih jauh, digumuli, digulati agar kita melihat A-Znya dari suatu fenomena. Cara pandang ini sudah lebih maju daripada kita melihat dengan kecurigaan, karena lalu kita ingin ‘berkawan’, mengetahui lebih jauh dan mengenali juga kelemahannya. Cara pandang ketiga adalah cara pandang Fungsional, dimana kita bergerak lebih maju lagi, dari mengenali, memahami, lalu kemudian kita memanfaatkan, menggunakan, mana yang cocok untuk kepentingan kita. Dengan menggunakan tiga cara pandang lain hal-hal baru di sekitar kita, terutama terkait dengan teknologi baru, dan teknologi lain yang belum kita lihat sekarang, kita tidak melulu jatuh pada ketakutan, kecurigaan, bahkan ketidakberdayaan, tetapi sebaliknya kita HARUS mempelajarinya, mengetahui A-Znya suatu hal. Jika sikap belajar semacam ini tak dilakukan, maka ada kemungkinan kita akan tertinggal, terjerumus atau bahkan tergilas, menjadi tidak relevan. Dalam pendekatan lain ada yang menyebutnya hal ini sebagai soal "learning" dan "unlearning" atas hal-hal baru yang ada saat ini. Memahami Disrupsi Apa yang saya lakukan dengan studi yang baru saya selesaikan ini adalah juga bagian dari upaya untuk memahami fenomena digitalisasi yang terjadi dalam industri media dalam beberapa tahun belakangan ini. Tentu sedih melihat banyak media berguguran, banyak media tutup, memperkecil operasinya dan banyak jurnalis yang tidak lagi meneruskan profesinya. Tetapi itulah kehidupan di dunia, ketika kita tidak belajar hal baru, bisa jadi lalu kita menjadi tidak relevan, atau terbukti dimiliki oleh jaman sebelumnya. Bapak Ibu sekalian para anggota AMSI dan juga tamu undangan lainnya, saya mencoba untuk meneliti ini sebagai upaya untuk memahami era digitalisasi dan mencoba untuk melihat apa yang bisa digali sebagai pelajaran ke depannya. Transformasi digital tak sesederhana memindah teknologi, karena banyak unsur manusia di dalamnya, dan manusia-manusia ini juga memberikan nuansa, teknologi seperti apa yang nantinya akan dikembangkan. Saya pribadi tetap percaya bahwa keberadaan manusia tak tergantikan oleh mesin-mesin yang paling canggih sekalipun. Pun keberadaan generative AI (Artificial Intellegence) yang sudah dibicarakan di berbagai forum, saya tetap percaya manusia adalah pengendali teknologi dan sebagaimana yang saya pernah dengar adagium yang muncul lewat media sosial: "Manusia bukannya dikalahkan oleh AI, tetapi manusia dikalahkan oleh manusia yang memanfaatkan AI". Saya setuju dengan pernyataan ini. Artinya di sini manusia yang dituntut untuk terus memperbaharui dirinya, menambah ilmunya, menguasai teknologi, belajar hal baru, dan manusia punya ingatan atas pengetahuan yang ia miliki di masa lalu, dan manusia bisa berefleksi atas apa yang telah terjadi, dan apa makna dari perkembangan teknologi yang ada. Penelitian yang saya lakukan kira-kira dapat disimpulkan begini, kapital transformatif (istilah yang dikembangkan dari konsep Pierre Bourdieu, 1930-2002) adalah hal yang dibutuhkan untuk dapat menyesuaikan diri dalam konteks media digital saat ini. Transformative capital, yang merujuk pada kemampuan dari individu ataupun organisasi untuk melakukan transformasi atas dirinya dari latar belakang dunia analog menuju dunia digital. Transformasi ini menjadi ukuran keberhasilan dari perusahaan untuk bisa beradaptasi dengan kondisi baru, dan melakukan transformasi tersebut bukanlah pekerjaan mudah karena membutuhkan suatu adaptasi besar dari organisasi yang ada, butuh adanya kepemimpinan yang tangguh, hingga melakukan pilihan pada teknologi tertentu yang diadaptasi untuk menyesuaikan diri dengan kondisi jurnalisme digital saat ini. Operasionalisasi dari konsep kapital transformatif ini saya ambil dari peneliti manajemen media asal Swedia, Lücy Kung (2015), yang melakukan wawancara dengan sejumlah media yang dianggap innovator dalam pengembangan berita digital, yaitu: New York Times, The Guardian, Quartz, BuzzFeed dan Vice Media. Ada tujuh elemen yang ia sebut sebagai kunci sukses dari organisasi media yang melakukan transformasi digital:
  1. Kepastian dan kejelasan tujuan
  2. Kejelasan fokus strategi
  3. Kepemimpinan yang kuat
  4. Mendukung budaya digital
  5. Integrasi yang dalam antara teknologi dan jurnalisme, karena ‘masa depan berita ditulis dalam bentuk kode’
  6. Otonomi
  7. Mulai lebih awal
Berkaca dari pengalaman lima media di atas, Kűng menyimpulkan bahwa kejelasan dan kepastian atas arah yang hendak dicapai adalah faktor yang sangat penting, mereka mengetahui apa yang hendak mereka lakukan, mengetahui audiens yang mana yang mereka tuju, dan juga bagaimana menghasilkan nilai bagi audiens tersebut. Kejelasan akan tujuan ini juga dapat disebut sebagai ‘visi’ tetapi ia lebih jelas didefinisikan dan dilakukan secara lebih spesifik. Hal ini melekat pada DNA perusahaan tersebut dan ditunjukkan dalam beberapa fase perkembangan organisasinya (Kűng, 2015: 92). Otonomi menjadi salah satu masalah penting yang harus diperhatikan. Pemisahan kelembagaan dikatakan memberikan kemungkinan sukses yang lebih tinggi. Memasukkan unit yang mengembangkan digitalisasi dalam struktur organisasi bukannya tidak dapat menghasilkan sukses, tetapi sukses akan berlangsung secara perlahan (Kűng, 2015: 103). Masalah waktu juga faktor yang tak kalah penting. Memulai lebih awal adalah strategi klasik yang memberikan keuntungan. Banyak organisasi berita yang berkualitas memiliki strategi digital yang elegan dan cerdas saat sekarang, tetapi mereka memulainya terlalu lambat. Kesempatan pun jadi tertutup ketika perubahan terlambat dilakukan, wilayah yang penuh persaingan lalu dikuasai oleh para pemain baru. Mereka yang memulai perubahan lebih awal kemudian juga memiliki keuntungan tersendiri, yaitu mereka memiliki dasar pengetahuan yang substantif, mereka pun memiliki proyeksi ke depan yang lebih baik dari industri berita digital (Kűng, 2015: 105). Terkait dengan kejelasan fokus strategi, hal ini berfungsi sebagai protocol internal untuk melakukan pembuatan kebijakan. Sebagai tambahan, baik strategi dan fokus dari sejumlah perusahaan ini sangat koheren, dimana strategi dijelaskan dari visi yang telah disusun dan melekat di dalamnya (Kűng, 2015: 92). Sementara itu terkait dengan kepemimpinan yang kuat, yang dimaksud di sini adalah sejumlah individu yang memiliki kemampuan lebih untuk memimpin organisasi tersebut. Mereka ini adalah individu yang memiliki kapasitas untuk membangun visi dan strategi orsinal, dan juga memiliki kemampuan untuk memengaruhi orang lain untuk bekerja sama untuk mencapainya (Kűng, 2015: 94). Sedangkan yang menyangkut mendukung budaya digital, digital harus dilihat bukan sebagai suatu masalah, tetapi sebagai kesempatan, pertarungan yang dapat dimenangkan (Kűng, 2015: 95). Jurnalisme dan teknologi adalah suatu yang terintegrasi dalam iklim digital (digital natives). Perusahaan berbasis media cetak tahu bahwa mereka menyatukan hal ini, tetapi untuk melaksanakannya memang sangat menantang dan membutuhkan banyak perubahan dalam struktur dan hirarki yang ada, mulai dari tampilan fisik (seperti layout kantor), hingga ke dunia virtual (hubungan dalam peliputan, dan juga nilai budaya) (Kűng, 2015: 98). Saya kira salah satu hikmah yang kita bisa dapatkan dari proses transformasi digital ini adalah pentingnya divisi penelitian dan pengembangan yang serius dari organisasi media, karena lembaga ini akan punya kesempatan untuk mempelajari apa yang akan terjadi di masa depan, teknologi apa yang berkembang, mana yang cocok untuk dikembangkan - tak semua teknologi baru cocok dan pas dikembangkan di sini - dan mana yang tak cocok dengan kondisi kita. Di sini juga bisa dirintis kerjasama antara industri media dengan lembaga akademis seperti di kampus agar bisa sama-sama merumuskan strategi yang tepat ke depannya. Dunia kampus juga perlu belajar banyak dari perkembangan industri agar tetap menjadi relevan sekarang. Saya kira kata kuncinya di sini adalah saling berkolaborasi. Belajar terus menerus saya kira memang lekat pada dunia media, dari sejak ditemukannya mesin cetak era Gutenberg, hingga ke penemuan internet, dunia media terus mengalami perkembangan, dan mereka yang bergelut dalam bidang media terus belajar terhadap teknologi baru yang berpengaruh pada perkembangan media. Agenda penelitian lanjutan Sebagai penelitian lanjutan mungkin juga akan menarik melihat bagaimana media yang berasal dari tradisi digital berkembang dalam situasi sekarang, dan tantangan apa yang mereka hadapi melihat perkembangan ekosistem media yang berubah. Apakah ada ketergantungan yang tinggi dari mereka yang berasal dari media digital terhadap perusahaan platform raksasa? Penelitian terkait dengan pembaca berbayar juga menarik dilakukan, seberapa peluang tersebut bisa kita lakukan? Digital News Report 2023 menyebutkan 36 persen pembaca yang disurvei mau berbayar. Hal ini tentu saja bisa dielaborasi lebih jauh, walau dalam laporan Digital News Report 2019 sudah diingatkan bahwa tak mudah meminta pembaca untuk membayar isi media karena jika banyak media melakukan hal ini maka pembaca pun akan mengalami apa yang disebut sebagai "subscription fatique", dan akhirnya akan berujung pada kondisi pembaca enggan membayar media jika banyak media melakukan hal yang sama. Kemudian muncul juga sejumlah kekhawatiran yang terkait dengan kualitas jurnalisme jadi menurun pada era digital, hal ini menarik untuk diteliti, seberapa valid atau benar klaim tersebut. Penelitian terkait dengan isi media, penilaian atas kualitas jurnalisme era digital ini (baik yang diajukan oleh para ahli, ataupun dirasakan oleh publik secara umum) akan menarik melihat hasilnya. Kemunculan fenomena iklan natif sebagaimana juga sedikit dibahas dalam penelitian saya menantang untuk dikembangkan lebih jauh, terutama terkait dengan masalah penurunan kualitas jurnalistik akibat dengan adanya iklan natif tersebut. Apakah sekarang "firewall" antara ruang redaksi dan ruang bisnis menjadi makin lebur, dan praktik iklan natif menjadi makin permisif dilakukan, atau ini merupakan suatu fenomena yang tak dapat dihindari? Kita juga mengetahui sejak masuk pada dekade kedua abad 21, kemunculan Artificial Intelligence (AI) membuat keguncangan baru bagi dunia jurnalistik. Pertanyaan terkait dengan apakah AI bisa menjadi kawan atau lawan bagi jurnalistik, adalah pertanyaan kuncinya. Apakah dunia jurnalistik akan menjadi lebih baik dengan adanya AI, ataukah justru keberadaan AI mengancam keberadaan jurnalistik? Penelitian yang lebih mendalam akan memberikan jawaban yang lebih memadai. Menutup paparan ini ijinkanlah saya mengucapkan selamat ulang tahun ke-7 bagi Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) dan kiranya para pengurus dan para anggota AMSI selalu mendapat kesehatan, dan terutama juga kesehatan finansial dalam situasi sekarang. Semoga keberadaan AMSI akan terus bisa merespon apa yang dibutuhkan para anggota sehingga keberadaan AMSI sendiri menjadi makin relevan ke depannya. Sekian dan terima kasih atas perhatian Bapak Ibu sekalian. (*) Referensi
  • Bintang, Samiaji; Haryanto, Ignatius; Suranto, Hanif, & Prestyanta, Albertus. (2022). Indonesian women journalists and precarious work. In Timothy Marjoribank; Lawrence Zion; Penny O’Donnell; Merryn Sherwood. (Ed). Journalists and Job Loss. London & New York: Routledge.
  • Bourdieu, Pierre. (2005). The political field, the social science field, and the journalistic field. In Rodney Benson & Erik Neveu (Ed.). Bourdieu and The Journalistic Field. Cambridge: Polity Press. Briggs, Asa, & Burke, Peter. (2006). Sejarah sosial media: Dari gutenberg sampai internet. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • Carlson, Matt. (Ed.). (2021). Measurable journalism: Digital platforms, news metric and the quantified audience. London & New York: Routledge.
  • Fenton, Natalie (Ed.). (2010). New media, old news: Journalism and democracy in the digital age, London: Sage.
  • Grueskin, Bill, Seave, Ava, & Graves, Lucas. (2011). The story so far: What we know about the business of digital journalism. Columbia Journalism School, Tow Center for Digital Journalism: Columbia University Press.
  • Gunther, Richard; Mughan, Anthony. (Ed.). (2000). Democracy and the media: A comparative perspective. Cambridge University Press.
  • Hampton, Mark. (2010). The fourth estate ideal in journalism history. In Stuart Allan. (Ed.). The Routledge Companion to News and Journalism. New York: Routledge.
  • Küng, Lucy. (2015). Innovators in digital news. London: I.B. Tauris.
  • Lee-Wright, Peter; Angela Philips, and Tamara Witschge (Ed.). (2012). Changing Journalism. London & New York: Routledge.
  • Meyer, Philip. (2009). The vanishing newspaper: Saving journalism in the information age (2nd ed.). Columbia & London: University of Missouri Press.
  • Newman, Nic; Fletcher, Richard; Kalogeropoulos, Antonis; Nielsen, Rasmus Kleis. (2019). Reuters institute digital news report 2019. Reuters Institute for the Study of Journalism.
  • Newman, Nic; Fletcher, Richard; Eddy, Kirsten; Robertson, Craig T.; Nielsen, Rasmus Kleis (2023), Reuters institute digital news report 2023. Reuters Institute for the Study of Journalism.
  • Perloff, Richard M. (2020). The dynamics of news: Journalism in the 21st Century Media Milieu. London & New York: Routledge.
  • Sudibyo, Agus. (2019). Jagat digital: Pembebasan dan penguasaan. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
  • Van Peursen. C.A. (1988). Strategi kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.
Ignatius Haryanto, dosen jurnalistik, Universitas Multimedia Nusantara, Serpong, Tangerang (pidato disampaikan dalam ulang tahun ke-7 dan halal bihalal AMSI, Jakarta 30 April 2024)